Ujian Nasional: Masihkah Engkau Penting?

2018 – 1.00 WITA – Kali ini sudah malam, dan mata saya sudah mulai perih untuk tetap terbuka. Tapi seperti matahari yang menolak terbit jam 2 malam, mata perih ini juga menolak untuk dikasih bantal. Maunya dikasih tidur. Etapi setelah mengambil dan minum air putih, gak jadi ngantuk, deng. Dasar mata aku. Labil.

Hari ini, hari kedua Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) bagi anak SMA. Mata pelajaran yang diujikan ialah matematika, suatu bidang ilmu yang punya karakter kuat. Karena memiliki karakter yang kuat, orang bisa menjadi sangat-sangat suka dengan matematika. Sebaliknya, karena memiliki karakter yang kuat, orang juga bisa menjadi sangat-sangat tidak suka matematika. Tapi ada juga orang yang berada di antara kedua golongan fanatik di atas. Tidak membenci matematika, namun juga tidak terlalu menyukai matematika. Kasian. Orang ini menjadi orang yang tanggung.

Hari ini saya berkesempatan menjadi proktor UNBK matematika ini. Sebagai proktor yang baik hati, saya membiarkan anak-anak mengerjakan soal dengan hikmat tanpa diganggu. Kalau diganggu, nanti kasian mereka. Sudah pusing memikirkan angka, nanti bertambah pusing andai mereka tidak sempat sarapan. Saya juga tidak mau kalah. Saya juga tidak mau diganggu. Saya juga sedang hikmat. Sedang hikmat memerhatikan anak-anak yang sedang mengerjakan soal dengan hikmat. Kalau saya diganggu nanti saya jadi pusing. Apalagi saya belum sarapan buat besok. Iya, lah. Kan masih besok.

Ujian berlangsung damai hingga menit ke 110. Sampai menit setelah itu, suasana mulai memanas. Bukan karena pendingin ruangan yang mati. Tapi karena sepuluh menit lagi waktu ujian akan selesai. Melihat keadaan yang berubah lebih menegangkan, saya memerhatikan anak-anak dari depan komputer proktor. Hasil dari saya memerhatikan, ternyata keadaan berubah bukan hanya karena waktu yang hampir habis. Tapi karena waktu yang hampir habis dengan jawaban mereka yang masih banyak kosongnya. Suasanya menjadi semakin menegangkan tiap menitnya. Hanya beberapa orang saja yang saya perhatikan masih dalam mode tenang.

Ketika saya berjalan mendekati anak-anak dengan mode tenang, saya melihat daftar soal yang sudah ia jawab didominasi oleh warna hitam, yang artinya ia sudah menjawab dengan yakin semua soal yang tersedia.

“Kalau sudah selesai, silakan di-log out!” Kata saya. Si anak lalu terhipnotis dan melakukan apa yang saya anjurkan.

Al-hasil, mereka sukses menyelesaikan ujian dengan mode tenang.

Saya berasumsi bahwa ketenangan si anak menyelesaikan ujian dapat terjadi karena dua kemungkinan: (1) karena si anak menyukai matematika, dan (2) si anak tidak menyukai matematika, sehingga ia berhasil bersikap tenang karena tidak mau ambil pusing dengan soal dan jawaban yang rumit.

Sementara si anak tenang menghembuskan nafas lega, anak-anak lain yang jumlahnya lebih banyak justru semakin grasak-grusuk. Mulai aktif tengok sana tengok sini pertanda ia harus segera menyelesaikan ujian entah bagaimana caranya.

Untuk golongan terakhir ini, saya asumsikan bahwa mereka adalah orang yang tanggung: tidak terlalu benci dengan matematika, sekaligus tidak terlalu menyukai matematika. Mereka mengusahakan menjawab soal dengan benar sebab mereka yakin bisa menjawab (karena tidak membenci matematika). Tapi yang jadi persoalan, mereka tidak cukup mampu untuk menemukan jawaban yang tepat (karena tidak terlalu menyukai matematika).

Lalu apakah itu salah mereka, jika nilai yang rendah menimpa golongan anak-anak yang tidak suka matematika?

Jawabannya adalah iya, kalau alasan mereka hanya karena tidak suka matematika, titik.

Tapi jika nilai mereka rendah karena tidak suka matematika, namun ternyata lebih suka dengan mata pelajaran dan bidang lain, maka mereka punya alasan yang tepat untuk gagal mengerjakan matematika dengan baik. Dan itu, bagi saya bukan sesuatu yang salah.

Paham dengan apa yang saya tulis di atas? Kalau belum, maka saya akan mencoba merekomendasikan anda untuk membacanya sekali lagi.

sudah?

Jawaban saya dari pertanyaan di atas memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

Jika mereka tidak suka matematika hanya karena mereka tidak menyukainya, maka bisa dibilang mereka punya kemauan yang kecil untuk berusaha menyukainya (malas).

Tapi jika mereka tidak suka matematika karena lebih menyukai bidang lain, artinya mereka memang lebih menaruh fokus pada sesuatu yang mereka suka, bukan matematika. Dan ini menjadi sesuatu yang baik.

Terlebih dahulu kita harus menyadari, bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa menguasai semua bidang ilmu di sekolah dengan sama baiknya. Mari saya ajak anda membaca sebuah analogi di bawah ini:

Si A dan si B adalah dua orang sahabat. Di hari senin bulan januari, si A dan si B sama-sama tertarik untuk mempelajari alat musik, yaitu gitar. Hingga satu bulan berlalu, si A dan si B sudah bisa memainkan dasar-dasar chord gitar. Bulan berikutnya, si A masih semangat mempelajari gitar, sementara si B sudah mulai puas dengan kemampuannya, dan memutuskan untuk mempelajari alat musik biola. Bulan berikutnya lagi, si A semakin jago memainkan gitar, sementara si B sudah puas mempelajari biola, dan kembali berpindah mempelajari alat musik yang lain lagi. Selaluu begitu hingga bulan-bulan berikutnya.

Di tahun berikutnya, siapakah yang paling mahir bermain gitar? Tentu jawabannya adalah si A, karena si A secara konsisten terus fokus mempelajari alat musik gitar. Sedangkan kemampuan bermain gitar si B masih dalam kategori standar karena ia membagi fokusnya untuk mempelajari alat musik lain. Mesikipun akhirnya si B bisa memainkan banyak alat musik, tapi sekali lagi, karena fokusnya terbagi, si B tidak bisa menjadi ahli dalam satupun bidang alat musik. Di sisi lain, meskipun si A hanya bisa memainkan satu alat musik, tapi si A menjadi ahli dalam memainkan alat musik gitar. Si A memang tidak bisa memainkan biola. Tapi dia, kan, ahli dalam memainkan alat musik gitar.

Yang di alami si B dalam cerita di atas, persis sama dengan apa yang terjadi dalam pendidikan kita saat ini. Anak-anak dipaksa untuk bisa membagi fokus pada mata pelajaran yang ada di sekolah. Semuanya dijejalkan pada mereka. Yang lebih parah lagi, mereka dianggap bodoh karena dianggap gagal pada beberapa pelajaran, padahal mereka bisa menjadi yang paling jenius dalam bidang yang ia senangi. Hal seperti ini juga terjadi pada Ujian Nasional kita selama berpuluh-puluh tahun.

Kalau sudah begini, adilkah jika kesuksesan anak dalam bersekolah diukur dari bagus tidaknya nilai Ujian Nasional mereka?