Di Perempatan Jalan

Di perempatan jalan yang kecil, aku baru pulang dari hari yang kuhabiskan untuk mencari uang.

Tanganku menenteng plastik yang isinya sepuluh tusuk sate ayam.

 

Saat hendak menyeberang, aku berhenti di sudut ruas jalan yang ramai.

Di sana ada pengemis yang menangis karena semingguan tidak bisa makan.

Dengan suara lirih, ia memintaku mengisikan uang di tempat yang tepat berada di depannya.

Aku sedang tidak membawa uang.

Jadi, kumasukkan sepuluh tusuk sate ayam ke tempat itu.

Ia berhanti menangis. Sate ayamku dilahapnya hingga hampir habis.

 

Setelah kejadian itu, aku meneruskan perjalanan. Dari jalan yang ramai, aku menyeberang ke ruas jalan yang sepi.

Di sana ada gadis yang menangis karena seharian tidak diucapkan selamat makan.

Aku kasihan dengannya. Lalu kuucapkan ucapan selamat makan yang tulus untuknya.

Ia menangis semakin nyaring

Karena yang mengucapkan adalah aku: bukan orang yang ia harapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.