Kursi yang Kehilangan Pemiliknya

Di teras rumah yang gelap dan sepi, aku membayangkan kita sedang bercengkrama. Membahas hal-hal yang biasa kita bahas, kemudian tertawa lepas. Lalu sekali lagi, aku berilusi melihat lekuk senyummu malam ini.

Aku selalu suka memikirkanmu saat waktu luang. Mencoba memanggil lagi segala ingatan.

Kamu mungkin sedang tidur nyenyak sekarang. Atau sedang tersiksa dengan rindu kepada seseorang – yang tentu saja, orang itu bukan aku.

Setelah aku sadar dari khayalan, ternyata kursi di hadapanku sudah ditinggalkan pemiliknya. Senyum di hadapanku sudah hilang dan sulit untuk kudapati lagi. Kamu sudah beralih mencari kursi lain, yang lebih tidak membosankan.

Aku ingat kamu pernah bicara. Katamu, kita bisa saling memimpikan jika sebelum tidur, kita berusaha untuk saling memikirkan. Entah benar atau tidak, tapi aku selalu melakukannya. Dan berharap kamu akan jadi bunga tidurku malam ini. Karena mimpi adalah satu-satunya cara untukku agar bisa melihatmu tersenyum padaku, sekali lagi.

Inginku memang terlalu sederhana: Sekalipun aku tidak bisa terbangun dari mimpi terakhirku tentangmu, aku akan sangat senang. Karena yang terakhir kulihat adalah kamu, beserta senyum cantik yang kamu beri untukku.

Senyum yang sekarang cuma jadi bayanganku. Senyum yang sekarang sudah kamu beri untuk orang lain.

Ah, Nona. Kamu harus lihat, betapa aku sudah menjatuhkan hatiku sejatuh-jatuhnya. Padamu.

Tadinya, kukira kehilanganmu adalah kehilangan yang cukup buruk. Tapi bukan. Aku yang salah.

Ternyata, ada yang lebih buruk dari aku yang kehilanganmu. Yaitu aku: yang kehilangan dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.