Bertanggungjawab dengan Cinta

Aku sudah sampai tempat ini. Saat aku datang, ia sudah menunggu di depan gerbang untuk menyambut pekerja-pekerjanya. Ia berdiri di bawah papan nama perusahaan yang bertuliskan “CV.  Republik”. Tangan kanannya diangkat setinggi dadanya. Semua pekerja paham. Ia mengangkat tangannya untuk semua pekerja-pekerjanya. Ia melakukan ini setiap pagi. Aku yang baru saja datang sudah disodori tangan kanannya yang putih itu. Tidak ada apa-apa di balik tangannya. Tidak ada uang, tidak ada plastik makanan, tidak ada apa-apa. Ia melakukan itu dengan harapan pekerja-pekerjanya mau menyalami dan mencium tangannya. Dan beruntung, harapan itu selalu dikabulkan semua pekerja-pekerjanya.

Aku terpaksa melakukan itu. Mungkin semua pekerja juga melakukan itu dengan terpaksa. Sebenarnya, kami tidak mau. Tapi, dia adalah bosku. Aku adalah anak buahnya. Uang yang kupergunakan untuk hidup beberapa tahun ini kuperoleh darinya. Anakku, istriku, aku, bisa makan dari uangnya. Baju merah yang kupakai hari ini kubeli dari uang yang diberinya. Sandal jepit hijau yang kupakai di kaki ini juga kubeli dari uang pemberiannya. Hidupku berkecukupan selama ini juga berkat uang darinya.

Dia itu Karto, bosku di perusahaan ini. Tapi kami semua memanggilnya Bos Karto. Tidak ada yang boleh memanggilnya selain dengan sebutan Bos Karto. Ia tidak mau dipanggil Mas Karto, Pak Karto, Tuan Karto, apalagi hanya Karto. Ia hanya mau dipanggil Bos Karto. Bahkan Pak Sukar – satpam yang umurnya jauh lebih tua dari Karto – juga tidak boleh memanggilnya dengan sebutan apapun selain Bos Karto. Siapapun yang melanggar aturan itu akan kena marah, dan sudah pasti akan dipecat sebagai pekerjanya.

Kau boleh berpikir Karto itu adalah pimpinan yang gila hormat. Tapi kau tidak boleh menertawakannya karena hal itu. Apalagi kalau sampai Karto mengetahuinya. Tentu ia akan sangat marah jika tahu kau sudah menertawakannya. Ini yang terjadi pada Wati, pegawai di perusahaan ini yang tahun lalu dipecat oleh Karto.

Wati hanya mencoba mengajak Karto itu bercanda, dan bukan bermaksud menertawakan Karto. Hanya saja, saat itu Wati kebetulan memakai baju warna abu-abu. Karto itu tidak suka abu-abu. Kalau kau tanya aku apa sebabnya, aku juga tidak tahu. Tapi sejak wati dimarahi habis-habisan karena hal sepele semacam itu, aku jadi tahu. Karto itu tidak suka abu-abu. Itu saja. Kau tidak bisa tahu lebih banyak, karena aku juga tidak tahu.

Tunggu dulu. Kau jangan sampai beritahu Karto kalau aku sedang membicarakannya! Bisa habis aku kalau kau memberitahunya. Aku tidak mau dibunuh dari pekerjaan ini. Nanti anakku, istriku, aku, akan hidup susah kalau tidak bekerja di sini. Kalau kau sudah mau berjanji tidak akan memberitahu Karto, aku akan melanjutkan ceritaku.

Kuberitahu kau, ya, aku sebenarnya tidak suka Karto. Meskipun harus kuakui, hidupku terjamin karena bekerja dengannya. Tapi karena kau sudah berjanji, aku akan memberitahumu alasan mengapa aku tidak menyukainya.

Dia itu suka mengatur, ke semua orang. Kuulangi lagi. Karto itu suka mengatur semua orang. Apalagi kami, pekerja-pekerjanya. Dia mengatur kami dengan aturan-aturan di perusahaan ini yang bagiku tidak layak dijadikan aturan. Dia memaksa kami datang sebelum pukul 6.30 pagi dan kami tidak boleh pulang sebelum jam 6.00 sore. Lalu, semenjak kejadian dipecatnya Wati, haram bagi kami membawakan warna abu-abu dalam bentuk apapun di hadapannya. Dan yang paling tidak aku suka, kami harus menyalami dan mencium tangannya setiap pagi. Ah, itu adalah cara paling tidak hormat, untuk memaksa orang lain agar menghormatinya.

“Hey, Rud. Rudi, kau dipanggil Bos Karto.”

“Iya, Mas.”

Sudah dulu, ya, aku dipanggil Karto. Eh, maksudku Bos Karto. Nanti malam akan kuceritakan lagi ketika aku sudah sampai di rumah. Doakan saja, semoga aku dipanggil bukan untuk dimarahi Bos Karto.

***

Cepat-cepat aku memasukkan sepedaku ke dapur. Dapurku alasnya tanah. Sekelilingnya ditutup oleh kayu dan papan-papan bekas, sisa membuat meja dan lemari di tempat kerjaku. Di luar basah karena hujan. Begitu juga aku. Pakaianku basah sekali – dari atas hingga bawah, dari luar hingga dalam. Sekarang kira-kira sudah jam 8 malam. Atau lewat, kurasa. Hari ini aku pulang lebih malam dari biasanya. Tadi aku mengantar Pak Sukar pulang dulu, dan kami terjebak hujan di tengah-tengah perjalanan. Jadi, kami singgah di beranda warung makan yang sudah tutup untuk berteduh.

Aku melepas bajuku dan melemparkannya ke dalam baskom berisi pakaian kotor. Anakku sudah tidur, ternyata. Sedangkan istriku yang cantik sedang menghampiriku.

“Mau saya buatkan teh, Mas?” sapa istriku sambil meraih dan mencium tanganku.

“Tidak usah. Saya mau mandi, lalu tidur saja.”

Ah, istriku yang perhatian selalu punya cara membuat lelahku yang banyak menjadi berkurang. Oh, iya, meskipun istriku tadi menyalami dan mencium tanganku, jangan kira aku sama dengan Karto, bosku itu. Aku tidak sama. Dia itu istriku. Wajar saja dia patuh dan hormat denganku. Tidak seperti Karto itu. Aku hanya pekerjanya, dan dia bukan siapa-siapaku. Mengapa aku harus mencium tangannya setiap pagi?

Ah, sudahlah. Aku lelah. Sekarang aku mau mandi, lalu tidur. Anakku sudah menungguku di dalam mimpinya.

Tapi, sebelum itu, malam ini aku ingin minta maaf denganmu. Seharusnya kulanjutkan ceritaku tentang bosku, Karto itu, malam ini. Tetapi aku sangat lelah, dan sedang banyak pikiran. Semoga kau paham keadaanku. Sekarang aku mau mandi. Sampai jumpa lagi.

***

Aku mencintai istri dan juga anakku. Bagaimanapun, aku harus bisa tetap menghidupi kami. Paling tidak, hanya mereka saja. Aku tidak penting. Yang penting mereka. Karena aku mencintai keduanya, maka aku punya tanggung jawab terhadap mereka. Dan bekerja dengan Karto adalah salah satu cara mengerjakan tanggung jawabku terhadap anak istriku.

Aku mau bekerja di Republik – sebutan kami untuk perusahaan pembuat lemari, tempat kami bekerja. Tapi aku tidak mencintai Karto. Jangankan cinta, nyaris suka dengan Karto itu saja tidak. Kau pasti mengerti alasanku tidak bisa mencintai Karto. Maksudku, bukan hanya karena aku laki-laki, dan Karto juga laki-laki, maka aku tidak bisa mencintainya. Kau salah jika mengartikan cinta hanya untuk sepasang kekasih, atau hubungan suami istri. Cinta itu berhak diberikan kepada siapa saja. Jika kau pernah begitu senang memelihara kucing, atau kau tidak rela jika gitar pertamamu rusak, berarti kau sudah mencintai binatang, atau bahkan benda mati yang malahan tidak punya jenis kelamin. Kita berkewajiban mencintai dan mengasihi sesama makhluk hidup.

Aku tidak suka Karto karena dia itu Karto, dengan segala sifatnya yang sama sekali tidak  dapat kuterima. Tapi lagi-lagi harus kuakui, bekerja dengan Karto membuat hidup keluargaku terjamin. Karena alasan itu aku tetap mau bekerja dengan Karto. Kalau dia juga membuat hidup keluargaku susah, pasti sudah sejak lama aku meninggalkan pekerjaan di Republik ini.

Oh, iya, aku masih punya janji bercerita denganmu.

Baiklah, kurasa sekarang aku akan bercerita karena aku masih punya waktu dua puluh menit sebelum jam istirahatku selesai. Tapi, kau tunggu di sini sebentar. Aku mau mengambil makanan di lokerku dulu. Tidak apa-apa, kan, kalau aku bercerita sambil makan? Aku butuh asupan tenaga untuk melanjutkan pekerjaan yang berat hingga sore nanti. Tidak lama, cuma lima menit aku mengambil bekalku. Kau tunggu di sini saja. Oke?!

***

Terima kasih sudah mau menunggu. Aku sekarang hanya punya waktu lima belas menit untuk bercerita. Jadi, aku hanya akan bercerita secara singkat dan tidak dengan panjang lebar.

Oh, iya. Ngomong-ngomong, makan siangku ini bekal yang sudah disiapkan istriku tadi pagi. Sudah kubilang, kan, istriku sangat perhatian. Tidak usah kau singgung mengenai kotak makanku yang kecil dan bergambar kartun mobil-mobilan seperti kotak makan anak kecil. Luarnya memang tidak menarik. Tapi makanan di dalamnya sangat enak. Tentu saja, makanan ini masakan istriku.

Ah, istriku. Selalu bisa membuat makanan yang sangat enak.

Tapi sebelum aku makan, aku perlu minta maaf padamu jika sekarang kau belum bisa mencoba masakan istriku. Makanan ini mau kuhabiskan sendiri. Karena aku sangat lapar. Kuharap, kau maklum.

Baiklah, kubuka dulu karet yang mengikat kotak ini, lalu aku cerita.

Malam tadi aku pulang mengantar Pak Sukar. Jalanan sedang sangat sepi saat itu. Wajar saja, saat itu kurasa sudah hampir jam 7 malam, dan orang-orang tentu tidak mau keluar rumah pada jam-jam seperti itu. Orang-orang kami beranggapan, jika ada yang keluar rumah saat senja hingga matahari terbenam, maka orang itu akan diculik hantu. Itu salah satu tahayul yang kami percaya. Orang-orang kami menyebutnya pamali. Padahal, kurasa itu hanya akal-akalan orang tua agar anaknya tidak main di luar rumah saat senja.

Saat aku masih mengayuh sepeda, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Saat itu memang mendung. Pak Sukar sebenarnya sudah memperingatkanku untuk singgah di pos kamling yang ada di beberapa ratus meter sebelum hujan benar-benar turun. Tapi aku bersikeras tetap melanjutkan perjalanan, karena kurasa, kami bisa sampai di rumah Pak Sukar sebelum hujan. Tapi ternyata, Pak Sukar lebih benar daripada aku.

Saat hujan tiba-tiba deras, kami memutuskan untuk berteduh di beranda warung makan yang saat itu sudah tutup. Sekelilingnya gelap. Di sana, hanya ada kami berdua, juga beberapa suara kodok dan jangkrik yang kurasa ikut berteduh bersama kami. Selain aku, Pak Sukar, kodok dan jangkrik, tidak ada makhluk lain di sekitar kami.

“Sepedanya dibiarkan kehujanan, Rud?” tanya Pak Sukar sambil melihat sepeda yang kami naiki tadi kubiarkan kehujanan.

“Biar saja, Pak. Sepeda tidak akan masuk angin walaupun dibiarkan kena hujan.”

“Sepeda itu pemberian Bos Karto, kan?” tanya Pak Sukar.

Pak Sukar bisa menebak sepeda itu adalah pemberian Karto. Wajar saja, Karto – bosku yang tidak suka abu-abu itu – memang suka membelikan sepeda untuk pekerja-pekerjanya. Sepertinya, Pak Sukar sudah hapal kebiasaan Karto.

“Iya, Pak. Kok Bapak tahu?”

“Itulah salah satu kebaikan Bos Karto. Beliau selalu memikirkan pekerja-pekerjanya.” kata Pak Sukar sambil menepuk pundakku. “Kamu dibelikan sepeda itu agar kamu tidak kelelahan berangkat dan pulang bekerja. Seharusnya, kamu bisa menyayangi dan merawat pemberian dari orang lain, Rud.” lanjut Pak Sukar dengan nada yang mulai tegas.

Aku sedikit terkejut mendengar pernyataan Pak Sukar.

“Kebaikan, Pak? Pak Sukar menganggap bos kita itu baik?”

“Tentu saja. Bos Karto adalah bos terbaik yang pernah saya temui.”

Aku terdiam sebentar, lalu berpikir setelahnya. Bagaimana bisa Pak Sukar memandang Karto itu sebagai orang yang baik? Sedangkan aku selalu gelisah jika bertemu dengannya.

“Rud, saya tahu kamu tidak suka Bos Karto. Tapi kamu harus mempertimbangkan banyak hal sebelum kamu memutuskan tidak menyukai seseorang.” tiba-tiba saja, untuk pertama kalinya aku merasa risih dengan Pak Sukar. Bukan hanya karena aku tidak sepemikiran dengannya. Tapi karena dia juga menyebut Karto itu sebagai orang yang baik.

“Rud, Bos Karto itu orang yang sangat baik.” kata Pak Sukar kembali mempertegas.

Aku mengangguk, dan diam. Setelah itu aku tidak mau melanjutkan pembicaraan. Kurasa, akan percuma berdebat dengan seseorang yang tidak sepemikiran dengan kita. Sekalipun orang itu adalah orang terbijak seperti Pak Sukar.

Tunggu dulu. Aku mau minum. Menghabiskan makanan yang sangat enak sambil bercerita seperti ini membuat tenggorokanku serat. Sebentar, ya, aku membuka tutup botol ini, lalu aku minum.

Glek.. Glek.. Glek..

Ahh, segar sekali!

Sekali lagi, kumohon kau tidak usah mempermasalahkan apa yang kubawa. Botol minum ini memang seperti botol minum milik anak taman kanak-kanak. Tapi, botol ini adalah botol minum kesayanganku. Selain karena warna kulit botol ini adalah warna kesukaanku, botol minum ini juga milik istriku. Ia membelinya di Pasar Rakyat beberapa tahun lalu. Isinya juga air yang sudah pagi-pagi sekali disiapkan istriku. Kau lihat sekali lagi, kan? Istriku adalah istri yang sangat perhatian.

Baiklah, sampai mana ceritaku tadi?

Ah!!

Setelah Pak Sukar ‘menceramahiku’, aku mengajak Pak Sukar pulang.

“Kita pulang hujan-hujanan, Rud? Hujannya deras sekali.”

“Iya, Pak. Istri dan anak saya pasti sudah menunggu di rumah.”

“Oh, Begitu. Kalau begitu tidak apa-apa kita pulang hujan-hujanan. Kasihan istrimu menunggu.”

Aku menerobos hujan untuk mengambil sepedaku. Pak Sukar mengikuti di belakang. Kodok dan jangkrik yang tadi bersama kami, kami biarkan tetap di sana. Kami kemudian menaiki sepeda untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju pulang. Sebenarnya, aku tidak enak mengajak Pak Sukar pulang dan basah kuyup karena kehujanan. Pak sukar sudah tua, dan terlihat lelah. Istriku juga sebenarnya akan mengerti jika aku pulang terlambat. Tapi hanya itu alasan yang bisa kugunakan untuk mengajak Pak Sukar pulang. Daripada terus mendengar omongan Pak Sukar yang selalu membanggakan Karto, dan memancing emosiku untuk terus berdebat, kurasa sebaiknya kami pulang saja.

Sepedaku terasa sedikit lebih berat untuk dikayuh saat itu. Selain karena jalanan yang sudah mulai tergenang, juga karena aku terus-menerus memikirkan omongan Pak Sukar sepanjang jalan. Pak Sukar benar. Sepeda ini pemberian Karto. Tapi Pak Sukar salah memandang Karto sebagai orang baik hanya karena membelikan sepeda untuk kami, pekerja-pekerjanya. Banyak saja orang kaya yang bisa membelikan sepeda untuk orang-orang kecil. Tapi apakah dia sudah bisa dibilang baik hanya karena hal itu?

Astagaa! Jam istirahatku sudah habis! Bisa dimarahi Karto jika aku ketahuan terlambat masuk. Sudah dulu, ya. Aku minta doamu, semoga Karto tidak melihat aku terlambat.

***

Pagi ini, untuk pertama kalinya aku bangun dengan rasa lemah. Kira-kira sudah seminggu aku bangun selalu lebih siang dari kebiasaanku. Kadang aku bangun jam 10, kadang jam 11, tidak pernah lagi aku bangun jam 5 pagi seperti empat tahun belakangan. Anakku sedang sekolah. Istriku mungkin sedang mencuci pakaian di sungai depan rumah kami. Kau mungkin bertanya: “Apakah aku tidak bekerja?”, atau “Apakah aku tidak takut dimarahi Bos Karto karena terlambat bangun?”, atau bisa juga sebuah pertanyaan “Apakah aku sudah tidak peduli dengan omongan Bos Karto?”. Kalau kau memang benar-benar penasaran, aku bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Pertama, aku tidak bekerja. Kedua, aku tidak takut dimarahi, karena aku memang tidak mungkin dimarahi siapa-siapa meskipun bangun kesiangan. Ketiga, aku masih peduli dengan omongan Bos Karto. Hanya saja, sekarang Bos Karto yang sudah tidak peduli denganku.

Sekarang, seharusnya kau sudah bisa menebak.

Benar! Aku sudah tidak bekerja, dan sekarang aku pengangguran. Atau lebih tepatnya, aku kepala keluarga yang tidak bertanggungjawab karena sudah membuat anak dan istri yang aku cintai hidup susah selama satu minggu.

Kau ingat di hari ketika aku menceritakan dialogku dengan Pak Sukar saat berteduh di tengah hujan? Siang itu, aku terlalu asik menceritakan dan menjelekkan Bos Karto kepadamu. Dan celakanya, saat itu membicarakan Bos Karto selalu membuatku tidak ingat waktu. Sebelum aku pergi, jika kau ingat, aku sempat meminta doamu supaya aku tidak ketahuan Bos Karto karena telah menggunakan waktu istirahat lebih lama dari peraturan yang sudah berlaku.

Sayangnya, doamu saat itu tidak terkabul. Ketika itu, aku masuk Republik dan menuju ruang ganti pakaian. Di saat bersamaan, Bos Karto menemukanku. Aku tertangkap basah sudah terlambat masuk kerja dari istirahat yang kupergunakan untuk membicarakannya. Segala bulu yang ada di tangan, lengan, hingga leherku berdiri dan hampir keluar dari pori-pori. Kau pernah, kan, ketakutan dengan suatu hal, sampai-sampai rasanya darah di dalam tubuhmu menjadi terasa panas? Kalau tidak pernah, coba bayangkan bagaimana rasanya jika kau ketahuan mencuri uang, dan orang pertama yang meneriakimu maling adalah ibumu sendiri!?

Segala cemas, takut, bersalah, akan kau rasakan secara bersamaan. Aku tidak bisa bergerak. Rasanya, badanku ditunggangi oleh badan Bos Karto yang berat. Tatapan tajamnya seperti menembakku tepat di hulu hati, membuatku sesak nafas, membuatku sulit bicara.

Kau boleh membayangkan seliar apapun, bagaimana kemarahan Bos Karto saat itu. Tapi yang jelas, dia marah sekali saat itu. Aku pernah dimarahi guru matematika sewaktu sekolah dasar. Tapi marahnya Bos Karto, jauh lebih hebat dibanding guru matematikaku dulu. Bos Karto marah karena aku terlambat. Tapi Bos Karto menjadi lebih marah saat melihat kotak makan, dan juga botol minumku yang belum sempat kusimpan di loker saat itu.

Kau melihat dengan jelas, kan, bagaimana botol minumku siang itu? Selain bentuknya seperti botol minum milik anak taman kanak-kanak, botol itu warnanya sama seperti warna kesukaanku. Abu-abu.

Botolku berwarna abu-abu.

Kalau kau pikir itu wajar dan bisa dijadikan alasan Bos Karto untuk memecatku, kali ini aku harus setuju denganmu. Aku sudah melanggar dua peraturan secara bersamaan. Pertama, aku terlambat. Kedua, aku menghadirkan warna abu-abu di hadapan Bos Karto. Dan hasilnya, aku benar-benar dipecat saat itu juga.

“Rudi! Kau tahu apa salahmu?” bentak Bos Karto saat itu. Urat lehernya membentuk dan muncul di permukaan kulit lehernya. Bos Karto berteriak keras sekali. Membuat suara gema di lorong tempat kami berdiri. Sedangkan aku hanya tertunduk karena tidak berani melihat Bos Karto.

“Cepat kau kemasi barangmu, lalu pergi dari Republik ini!” teriak Bos Karto dengan keras suara yang masih nyaring. Tangan kanannya kali ini menunjuk ke arah luar. Bukan lagi disodorkan padaku untuk minta disalami. Aku bisa melihat geraknya dari bayangan yang terpantul di lantai.

Aku segera mengambil jaketku yang ada di dalam loker. Lalu dengan badan menunduk, dan pandangan yang masih menghadap lantai, aku melewati Bos Karto dan segera mencari sepedaku. Untung saja, saat itu di luar Republik sedang sepi dari pekerja-pekerja yang lain. Aku akan lebih malu jika kejadian ini terjadi di jam masuk atau pulang kerja, karena akan ada banyak pekerja di halaman Republik.

Awalnya, siang itu aku pulang menuju rumah dengan sangat kesal. Bagaimana mungkin, bos yang selama ini tidak kusukai, bisa membuatku kikuk ketika aku dimarahinya. Dan yang lebih membuatku jengkel, aku dipecatnya hanya karena botol minumanku berwarna abu-abu. Apa dia tidak bisa menghargai hak ku sebagai orang yang menyukai warna abu-abu?

Untungnya, kesal dan jengkelku itu hanya berlangsung selama perjalanan pulang. Ketika sampai di rumah, aku sudah mulai bisa tenang berkat pelukan dari istriku. Ia mencoba menenangkanku. Sekali lagi, kau bisa saksikan, istriku selalu bisa membuatku tenang dan senang dengan cinta yang diberinya. Ia menyuruhku menenangkan diri, dan tidak usah memikirkan apapun sampai aku benar-benar bisa menerima kenyataan: aku adalah kepala keluarga yang baru saja kehilangan pekerjaan.

Satu minggu menjadi pengangguran dan hanya berdiam di rumah saja membuat keluargaku repot. Kemarin beras habis, dan hari ini aku belum bisa memberi uang kepada istriku untuk membeli beras. Hidup yang sulit seperti ini membuatku sadar akan banyak hal. Tidak seharusnya aku membenci Bos Karto hanya karena sifatnya yang bagiku, terkesan merendahkan pekerjanya. Mestinya aku sadar sejak lama bahwa Bos Karto benar-benar berjasa bagiku dan keluargaku. Sepeda, tunjangan beras setiap bulan, uang lebih yang diberikannya, seharusnya lebih bisa kuhargai daripada terus mempermasalahkan apa yang tidak aku suka darinya. Seharusnya, aku bisa menghargai Bos Karto sebagai orang yang tidak suka warna abu-abu, meskipun aku juga ingin dihargai sebagai penyuka warna abu-abu. Bukankah jika kita ingin dihargai, terlebih dahulu kita harus belajar menghargai orang?

Setelah aku dikeluarkan dari CV. Republik, aku sadar perkataan Pak Sukar tentang Bos Karto sepenuhnya benar. Bos Karto orang yang sangat baik, jika dari awal aku bisa melihatnya dari sisi yang baik.

Cinta selalu jalan beriringan dengan tanggung jawab. Kau sepakat dengan itu?

Aku mencintai istri dan anakku, tapi aku gagal bertanggung jawab untuk membuat hidup mereka enak. Karena ketidaksukaanku terhadap Bos Karto, aku menggagalkan tanggungjawabku terhadap keluargaku. Dan hari ini, aku ingin bertanggungjawab terhadap semuanya, agar aku bisa lebih mencintai sesama manusia tanpa memandang apapun di baliknya.

Terima kasih istriku yang cantik. Terima kasih Pak Sukar yang bijak.

Terima Kasih Bos Karto yang baik hati.

Dengan segala hormat, saya minta maaf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.