Sederhana

Kau tahu, apa yang membuatku bahagia? Sederhana. Aku teramat menyukaimu.

Dalam hidup seseorang, bahagia adalah hal yang paling dikejar dan diidam. Sedang kesedihan ialah hal yang paling dihindari. Dihindari bukan berarti tidak ada. Hanya saja semua orang lebih memilih memaksimalkan kebahagiaan dan berusaha meminimalkan kesedihan. Begitu juga kita.

Saat saya mencoba berdiskusi denganmu, ternyata kita punya banyak kesamaan. Saya suka dengan anak kecil, ternyata kamu juga. Kamu tidak suka bermimpi buruk, ternyata saya juga. Kamu suka saya, dan ternyata sama: saya juga suka kamu.

Tapi, sebagai seorang manusia, kita tidak bisa selamanya sama. Anak kecil yang berkulit putih mungkin berubah menjadi remaja yang berkulit coklat. Nenek nenek akan habis giginya jika sudah terlalu tua.

Pun kita, sebagai manusia. kita juga bisa berdebat mengenai hal yang tidak sepemikiran dengan kita. Saya pernah memarahimu karena kamu suka mengatur, dan saya tidak suka diatur. Kamu pernah memarahi saya karena saya suka merokok, sedang kamu tidak suka asap rokok. Bahkan masalah kecil seperti makanan. Kamu suka makanan yg asin, sedang saya suka segala sesuatu yang manis. Karena itu saya suka kamu. Senyummu manis, juga indah.

Saya ingat ketika suatu hari kita melewati jalan raya sepi, namun kita tetap merasa ramai dan damai. Obrolan kala itu selalu tentang kita. Saya ingat sewaktu kamu menanyakan apakah saya ingin mendengarkan ceritamu tentang burung walet yg terbang rendah? Katamu, jika burung walet terbang rendah, berarti sebentar lagi akan turun hujan.

Saya tidak percaya denganmu. Saya sulit percaya denganmu sebelumnya. Juga untuk hal ini. Setahu saya, hujan itu ditentukan oleh mendung abu-abu yang berjenis tua atau muda. bukan ditentukan oleh ketinggian terbang seekor burung.

Kita kembali berdebat ketika saya mengangkat kepala dan mencermati awan. “Tidak ada awan abu-abu, sayang” kataku.

“Memang tidak ada, sayang. Tapi burung walet siang ini terbang rendah.” Katamu sambil mengejek.

Sesaat setelah kita berputar balik dari jalan menuju pulang, ternyata apa yang kamu katakan benar. Satu demi satu langit menurunkan air. Melalui pantulan cermin spion kendaraan, saya melihatmu. Senyummu semakin lebar saat itu. Saya melihatmu amat senang karena menang. Dan saya harus akui, kamu ternyata benar: hujan tidak selamanya diukur oleh mendung.

Melihat senyummu semakin terang saat itu, saya menjadi senang meski hujan yang turun tidak terlalu deras dan langit tak diselimuti awan abu-abu. Perdebatan yang kita lakukan tidak membuat saya sedih meski saya kalah.

Sejak saat itu, saya tahu dua hal. Ternyata, kesedihan bisa jadi membahagiakan jika kita dapat menemukan hal yang manis dari kekalahan. Dan kebahagiaan, bisa saya rasakan dengan cara sesederhana itu: melihatmu tersenyum.

Mari kita kembali ke awal. Kau tahu, apa yang membuatku bahagia? Sederhana. Aku teramat menyukaimu.

One thought on “Sederhana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.