Kamu, Pantai, dan Senja

Banyak orang yang ketagihan senja dan pantai dengan berbagai alasan. Warna yang merah, ombak yang debur, atau perpaduan keduanya yang menimbulkan rasa damai. Tapi bukan perihal itu semua aku menyukai pantai dan senja. Aku menyukai keduanya karena kamu yang ajarkanku. Senja di pantai, katamu, adalah pemandangan yang filosofis. Ia adalah sosok yang menjadikan pantai merasa istimewa meski sesaat. Kemudian ia pergi, namun berani berjanji untuk hadir kembali esok hari. Meski seringkali senja juga ingkar. Ada kalanya pantai juga didera mendung sore. Setelah beberapa waktu mengurung diri, aku datangi lagi senja di pantai yang dulu pernah kita nikmati bersama-sama. Aku datang sendiri. Tidak dengan siapa-siapa. Satu-satunya alasanku berani sendiri adalah karena aku ingin mengingatmu lagi. Pantai dan senja adalah pilihan yang tepat untuk mengenang kamu: sosok yang pernah membuat aku merasa istimewa.

Senja dan pantai kali ini memang masih sama. Kau benar, mereka memang pemandangan yang sempurna. Tapi sebenarnya, suasana hari ini berbeda. Aku yang datang sendirian, merasa seperti ada yang kurang. Seperti ada bagian dari diriku yang tidak utuh. Seperti ada bagian puzzle yang tega kau bawa pergi.

Aku membayangkanmu sampai senja di pantai ini benar-benar habis. Ia tenggelam untuk memberi keindahan di pantai lain. Pantai yang juga berhak merasakan kehangatan dan istimewanya senja.

Pada akhirnya, aku pulang tanpa bisa melihat senyummu lagi. Atau pantulan senja yang bersinar di bola matamu. Karena kamu adalah senja yang sudah terbenam dari pantaiku.

Aku punya alasan baru untuk menyukai pantai dan senja.

Dan senja di pantai ini, adalah pilihan yang tepat untuk mengingatmu, sekali lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.