Perjalanan Kaku

Kita terjebak di perjalanan panjang yang melelahkan. Tersandra di antara orang-orang yang ceria, kecuali kita. Baru beberapa waktu kita duduk bersebelahan, gesturmu mulai menunjukkan rasa tidak nyaman. Aku tahu, kamu bukan orang yang betah berlama-lama dalam perjalanan. Oh, bukan. Mungkin lebih tepatnya, kamu bukan orang yang betah berlama-lama bersamaku.

“Kapan kita sampai?” Tanyamu memecah sunyi.

Pertanyaan yang kujawab dengan gelengan, tidak mampu memberi jawaban pasti.

Kita kemudian bersepakat untuk kembali diam. Lebur di kesunyian yang kita buat sendiri. Membaur pada kecanggungan yang ada di tengah kita, sekali lagi.

Setelah sunyi yang cukup lama, kamu mengeluh haus. Kukeluarkan air mineral dari dalam tas kecilku. Sesuatu yang kuanggap paling pas untuk mengusir dahagamu. Kamu mengambil pemberianku, tapi tidak meminumnya. Kamu diamkan botol air itu tetap utuh. Katamu, minumanku tidak seenak air minuman kesukaanmu.

Lalu sekali lagi, kita menjadi penumpang yang paling kaku di perjalanan ini. Penumpang lain di sekeliling kita masih ceria. Mereka saling berbagi kebahagiaan, berbagi bahu, berbagi genggaman. Sesuatu yang tidak pernah kita lakukan.

Kenapa semua orang bisa mudah menyayangi, sedangkan aku susah payah mendapatkanmu.

Sesuatu akhirnya bisa aku pahami.

Kita persis seperti perjalanan ini.

Aku adalah perjalanan yang tidak kamu harapkan terjadi. Kenyamananmu tidak ada di perjalanan bersamaku.

Aku adalah air minum yang siap menyegarkanmu, tapi tidak kau minum dan tetap memilih haus. Karena aku bukan minuman yang kamu cari.

Aku berhenti. Dan menyerah pada perjalanan yang tidak pernah sampai: perjalanan mendapatkanmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.