Tidak Perlu Menjadi Dewasa

Aku tidak pernah mau terlibat dalam perasaan yang rumit, sebelum akhirnya aku terjatuh padamu.

Orang dewasa selalu memikirkan risiko dari bertindak sesuatu. Tapi bicara cinta, siapa yang bisa menerka apa yang akan menimpa pelakunya? Menjadi dewasa berarti menjadi egois. Dan cinta, tidak cocok untuk pribadi yang egois.

“Siapa yang memilihkanmu sifat dewasa, hah? Apa dirimu sendiri?” Aku memakimu dalam hati karena tidak berani bertanya langsung. Tapi kelamaan, hatiku sesak oleh pertanyaan.

Apa yang sebenarnya kau cari?

Apa aku kurang cocok dengan sifatmu?

Kenapa kita tidak bisa lebih dari ini?

Aku ingat kau pernah bercerita. Bahwa kau sempat mencintai begitu manis ketika masih kekanak-kanakkan. Sampai akhirnya kau terkena wabah yang luar biasa sakit: ditinggalkan sebelum disayangi. Kau mengaku dengan bangga bahwa sakit itu yang mendewasakanmu. Sebuah omong-kosong yang sering kudengar dari orang yang baru putus cinta.

Mengapa kau tidak memilih tetap menjadi anak kecil yang makannya saja harus disuapi? Aku bisa menyuapimu tanpa perlu kau minta. Tapi tentu saja, kalau kau tidak malu untuk melakukan itu.

Kau seharusnya tidak memilih dewasa hanya karena pernah terluka. Kau hanya perlu menyadari bahwa cinta memang penuh jebakan. Ada ranjau menyakitkan yang siap meledakkanmu kapan saja. Kau seharusnya tidak memilih dewasa karena takut mencintai, lalu disakiti lagi.

Dan seharusnya kau menyadari hasil perbuatanmu, bahwa kedewasaan membuatmu seperti sekarang: selalu menuntut ingin dimengerti, meminta dihargai setelah memberi, dan egois ketika mencintaiku.

Lihatlah! berkat patah hatimu itu, kau memang menjadi dewasa dengan sempurna.

Bicara cinta memang tidak boleh egois. Bicara cinta ialah tentang menerima, bukan menuntut ingin diterima. Bicara cinta mestinya tentang memberi, bukan selalu ingin diberi. Dan jika kita bicara cinta, harusnya kau lihat bagaimana aku menjadi orang bodoh ketika kau jabat tanganku saat kita berkenalan.

Kau tahu apa yang terjadi setalah jabat tangan itu? Aku, kau buat lebih bernyawa. Sesuatu yang belakangan kusadari menjadi hal paling primitif dari menjadi manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.