Dosa Turunan

Cantik..

Namaku Delisa..

Aku sedang duduk di kursi kayu di ruang tamu. Di sebelahku ada sebuah boneka, dan di depanku berdiri sebuah meja berbentuk persegi yang juga terbuat dari kayu, di atasnya terdapat secangkir kopi yang dibuatkan oleh seseorang sore tadi.

Saat aku sedang duduk memeluk boneka, lamunanku dipecahkan oleh suara bel dari luar. Aku segera berlari menuju pintu. Kuputar ke kiri kunci yang menempel di lubang pintu sebanyak dua kali. Ketika pintu kubuka, Aku mendapati seorang lelaki memegang sekotak makanan. Katanya, makanan ini untukku, dari seseorang. Tiba-tiba aku menjadi lapar. Aku mengambil kotak dari tangan lelaki itu. Kubuka dan kulihat apa isinya. Tanpa sengaja lidahku menjulur ke luar dan meneteskan air liur. Lelaki itu memasang wajah heran dan sedikit ketakutan, lalu pergi begitu saja.

Aku tahu makanan ini dikirimkan oleh Pat. Aku makan, lalu kembali menunggu hingga jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 WITA. Aku menyukai segala sesuatu yang diberikan oleh Pat. Pat adalah kekasihku. Ia lebih senang kupanggil Pat daripada kupanggil dengan nama aslinya. Sudah sembilan jam ia pergi dan meninggalkan aku sendirian dengan rasa cemas. Ia selalu begitu. Setiap hari kamis di pertengahan bulan, ia pergi di sore hari dan kembali pukul 12 malam. Tapi malam ini ia datang terlambat dari biasanya. Aku sendiri tidak tahu apa yang ia lakukan hingga pulang selarut ini. Tapi yang pasti, kalau ia keluar sampai larut malam seperti ini, ia selalu pulang dengan bau mulut khas alkohol yang tidak aku suka dan membawa seorang perempuan.

Kuberitahu kau sekali lagi, ya, Pat itu kekasihku. Rumah yang kutinggali ini milik kekasihku. Ah, bahkan seluruh hidupku juga milik kekasihku. Aku menyukai Pat karena ia adalah orang yang bersih, juga rajin membakar sampah. Sama seperti Ayah. Dan malam ini, ia akan melakukannya lagi. Aku sudah hafal apa yang akan dilakukannya setelah ia pulang: memberikanku sebuah kotak berisi boneka, mengantarkan perempuan yang ia bawa ke kamar di lantai atas, lalu turun dan menceritakan dongeng “Kelinci yang Penakut” hingga aku tertidur. Tapi Aku tidak tahu apa yang ia dan perempuan-perempuan itu lakukan setelah aku lelap. Keesokan paginya ia akan membangunkanku dan meminta aku membantunya membakar sampah.

Aku membantu mengumpulkan sisa-sisa daun kering yang jatuh dari pohon mangga di halaman belakang. Kutaruh kumpulan daun kering ke dalam kotak sampah yang berukuran cukup besar. Bahkan, jika disuruh berbaring di situ, tubuhku juga muat, kurasa. Pat mengeluarkan uang dari dalam sakunya lalu menyuruhku membelikannya bensin. Saat aku tiba dengan membawa jirigen berisi bensin, Pat segera menyiramkan bensin ke dalam kotak sampah sambil tersenyum. Api semakin lama semakin membesar dan mengeluarkan asap yang baunya begitu enak. Api dengan lahap memakan semua dedaunan kering yang aku kumpulkan tadi.

“Bagaimana, cantik? Bukankah ini indah?”

***

Usiaku sembilan tahun saat itu. Atau mungkin juga sepuluh, aku tidak begitu ingat. Aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil hasil tugas kesenian dari guru di sekolah ketika aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku tahu itu pasti Ibu yang datang, karena hari ini adalah hari jumat. Aku memegang kertas gambaranku di sebelah kiri, sementara tangan kananku membuka pintu. Di depan pagar aku melihat Ibu turun dari mobil lalu berjalan dengan gontai masuk ke halaman rumah. lewat kaca mobil yang sedikit terbuka, aku melihat seseorang berambut cepak dan memakai kacamata. Mobil hitam yang mengantar Ibu itu pergi dan melaju begitu saja.

Aku yang sudah rindu karena belum bertemu Ibu selama satu minggu langsung menghampiri dan ingin memeluknya. Ibu menghentikan langkahnya dan hanya berdiam. Badanku yang saat itu tidak terlalu tinggi untuk dapat mencium pipi Ibu, hanya bisa memeluk kakinya saja. Aku seperti anak kecil yang berpelukan dengan kaki orang dewasa.

Ibu pergi ke luar kota seminggu yang lalu untuk urusan pekerjaan. Selama ditinggal Ibu, aku hanya berdua dengan Ayah di rumah. Sejak saat itu, aku jadi lebih dekat dengan Ayah. Ayah yang memandikanku di pagi hari, mengantarku ke sekolah, Ayah juga yang membuatkanku sarapan. Ayah adalah orang yang pemarah. Aku selalu diomeli jika sarapan yang dibuatkannya tidak kuhabiskan. Padahal masakan yang Ayah buat tidak seenak masakan ibu.

Aku masih memeluk paha Ibu, sementara ia masih tidak bergerak. Ayah dari depan pintu berteriak memanggil namaku, dan menyuruhku masuk ke dalam kamar. Aku masih tidak menghiraukan perintah ayah. “Dasar idiot. Cepat masuk ke kamarmu.” Suara ayah semakin nyaring. Aku takut. Terpaksa aku menuruti perintah ayah. Padahal aku masih sangat rindu dengan ibu.

Aku berjalan menuju pintu dan melewati Ayah. Ayah menatapku dengan sangat tajam. Aku tidak berani melihat matanya. Ayah sempat memukul kepalaku satu kali. Ayah terlihat marah malam itu.

Ah, aku tak mengerti pikiran orang dewasa. Bukankah Ayah seharusnya senang karena Ibu sudah datang? Kenapa Ayah terlihat seperti orang yang marah? Apa Ayah tidak rindu dengan Ibu?

Sebelum masuk kamar, aku sempat melihat ke arah beranda rumah. Ayah menghampiri Ibu lalu menggenggam tangannya. Wajah Ibu saat itu pucat, tidak cantik seperti biasanya. aku menutup pintu. Ketika aku baru saja merebahkan diri di ranjang kasur, terdengar suara nyaring dari luar. Suaranya seperti pintu yang dibanting. Aku tidak berani keluar. Tatapan ayah saat aku melewatinya tadi begitu menyeramkan. Mungkin, aku bisa dipukuli ayah lagi jika aku keluar. Kemudian terdengar suara pecahan kaca, dan suara teriakan Ibu.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan mereka di luar. Kudengar Ibu menyebut-nyebut nama Ayah dan ‘Jangan!’ berulang kali. Lalu kudengar suara pecahan kaca sekali lagi dan ibu kembali berteriak ‘Jangan!’. Suara ibu semakin lama semakin nyaring. Hingga aku mendengar suara nyaring sekali lagi. Kalau sebelumnya terdengar seperti suara pintu yang dibanting, kali ini terdengar seperti suara kembang api yang meledak. Dan setelah itu aku tidak mendengar suara ibu lagi. Suara ibu hilang, melebur bersama sunyinya malam.

Setelahnya aku tidak begitu ingat. Kurasa aku ketiduran. Esoknya, saat langit masih gelap, dan matahari belum nampak sepenuhnya, aku terbangun. Aku berjalan keluar kamar dan menemukan pintu belakang rumah terbuka. Kulihat ada cahaya merah yang terang di halaman belakang. Di depannya sesosok pria besar yang berperawakan tinggi, dengan rokok yang dikapit kedua bibir. Perut buncitnya terlihat jelas karena ia tak memakai baju. Ia berdiri memandangi cahaya dari api yang berkobar di depannya.

Aku melangkahkan kaki, berjalan menuju pintu yang terbuka tadi. “Ayah, Ibu mana?” tanyaku.

“Kemarilah, cantik, Ibumu sudah pergi. Sekarang, lihatlah api yang besar itu. Bukankah itu indah?”

Aku mendekati Ayah. Kulihati asap abu-abu tebal dan percikan api-api kecil bersamaan membumbung ke udara. Asap itu menimbulkan bau yang sangat enak. Seperti bau bunga melati yang baru saja mekar. Dan aku menyukainya.

Ayah menghisap rokok yang sudah hampir habis, menahannya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan santai ke udara.

“Bagaimana, Cantik? Bukankah ini indah?”

***

Tahukah kau? Semenjak kejadian itu, ibu benar-benar pergi. Aku tidak tahu Ibu ke mana. Ibu tidak pernah lagi pulang, bahkan untuk menemuiku di dalam mimpi. Sejak saat itu juga aku jadi rajin membantu Ayah membakar sampah. Meski sampah yang ayah bakar tidak lagi seharum pembakaran malam itu – ketika Ibu pergi – tapi aku suka dengan percikan api yang dihasilkan.

Kalau cerita tadi berlangsung saat aku masih kecil, peristiwa yang akan kuceritakan ini terjadi kurang lebih satu tahun yang lalu. ketika itu aku berusia 17. Pat yang memberitahuku. Katanya hari itu adalah hari ulang tahunku, dan aku sudah berusia 17. Saat hari ulang tahunku itu Pat memberikan aku hadiah. Sebuah boneka Barbie dan satu setel pakaian yang serupa dengan baju yang dikenakan oleh Barbie.

“Kemarilah, cantik. Hari ini hari ulang tahunmu. Aku punya sesuatu untukmu.” Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam kamarnya. Tangannya menepuk-nepuk pinggiran kasur tepat di samping ia duduk. Aku masuk ke kamarnya. Aku duduk di sampingnya. Dia membuka sebuah kotak merah hati berbentuk persegi, dan di atasnya tersimpul pita merah.

“Lihatlah! Aku membelikan baju untukmu. Sini, biar aku pakaikan untukmu.”

Aku memalingkan badan. Sekarang kami saling berhadapan. Satu tangannya masih memegangi kotak kado. Satu tangannya lagi mengambil isi dari dalalm kotak. Aku diam saja, masih sibuk memandangi mata berwarna biru miliknya. Kemudian, dia mengatakan sesuatu padaku.

“Mendekatlah, cantik. Biar aku bantu membuka bajumu.”

Aku yang sejak tadi memandangi wajahnya, seperti disihir oleh kalimat yang baru saja diucapkan Pat. Kalimatnya seperti mantra abra-kadabra, lalu begitu saja aku menuruti semua perintahnya. Kini, kedua tangannya meraih kancing bajuku yang paling atas, lalu satu persatu dilepasnya semua kancing bajuku hingga ke bawah. Kemudian, bajuku yang sudah tak terkancing dilepaskannya perlahan, hingga sekarang aku sudah tidak memakai busana. Ia memandangku, tersenyum, lalu wajah kami perlahan mendekat. Ia mengecupku bibirku, lantas melumatnya hingga habis. Sejak saat itu, Pat tak hanya memanggilku “cantik”, terkadang ia juga memanggilku “Kekasih..”

***

Sejak percintaan kami yang pertama di hari ulang tahunku itu, Pat tidak pernah lagi pulang membawa perempuan. Kadang-kadang, memang ia keluar malam, tapi tidak sampai pulang hingga larut. Paling-paling ia keluar rumah untuk membelikan aku makanan. Aku suka jika Pat membelikan makanan untukku. Itu tandanya ia perhatian. Ya, tentu saja. Aku adalah kekasihnya.

Malam ini Pat memberitahuku kalau ia akan pergi untuk membelikanku makanan. Aku mengizinkan, karena aku sedang kelaparan. Pat membuatkanku secangkir kopi. Menaruhnya di atas meja kayu di ruang tamu. Kali ini aku meminumnya, karena sekarang aku mulai menyukai kopi buatan Pat. Hanya kopi yang dibuat oleh Pat. Aku mengantarkan Pat sampai depan pintu. Sebelum melangkahkan kaki ke luar, Pat sempat menciumku, dan mengelus-elus perutku yang entah mengapa sekarang sedikit membesar.

Saat aku menunggu Pat di ruang tamu, tiba-tiba aku merasakan mual. Perutku sakit dan kepalaku pusing. Aku muntah. Aku mengeluarkan semua isi perutku ke lantai. Aku juga tidak mengerti. Belakangan ini aku sering mual dan muntah seperti ini. Lalu tubuhku mulai melemah, dan akhirnya aku tak sadarkan diri.

Ketika aku membukakan mata, samar-samar kulihat jam digital di meja menunjukkan angka 3:50. Aku melihat ke sekeliling ruangan. Ternyata aku sedang berada di kamar. Padahal, seingatku tadi aku tertidur di kursi ruang tamu. Berarti Pat yang memindahkan aku ke kamar. Tapi aku tidak menemukan Pat di sebelahku. Biasanya kami tidur seranjang. Aku membangunkan badan lalu berjalan dengan lemah ke luar kamar.

Aku mencari Pat ke seluruh ruangan di dalam rumah: ruang tamu, dapur, kamar mandi, tetapi aku tidak menemukan Pat. Aku pergi ke halaman belakang. Aku melihat ada cahaya jingga dari api yang menyala, tapi aku tidak melihat Pat di situ.

Aku kembali masuk ke dalam rumah lewat pintu yang ada di dapur. Aku masih mencari ke seisi rumah untuk menemukan Pat. Aku ketakutan. Aku sudah frustasi mencari, tetapi aku tak bisa menemukan. Aku menangis. Aku berteriak. Kepalaku semakin pusing karena penuh dengan cemas dan ketakutan. Ku obrak-abrik seisi ruang tamu. Kupecahkan cangkir kopi yang dibuatkan Pat tadi sore. Kuhamburkan lemari yang penuh dengan semua boneka pemberian Pat selama ini. Teriakanku semakin nyaring, tangisanku tak terkendali, ketakutanku menjadi-jadi.

Sesaat kemudian aku mendengar suara langkah kaki dari lantai atas. Semakin lama terdengar semakin jelas. Aku menenang. Aku berbalik melihat ke arah tangga. Perlahan, dari atas terlihat sepasang kaki yang melangkah menuruni anak tangga. Ternyata sepasang kaki itu milik Pat. Ia menuruni anak tangga dengan pelan sambil menggendong seseorang di pundak kirinya. Orang itu berada di atas pundaknya. Pat menghadap ke lantai. Posisi perutnya berada tepat di atas pundak Pat, sementara kedua tangan Pat memeganginya agar tidak terjatuh. Rambutnya panjang dan terurai ke bawah. Dari rambut panjang itu aku tahu dia itu perempuan. Pat membawa perempuan tanpa busana itu ke halaman belakang. Hingga sampailah ia di depan tempat sampahnya.

Kepada api di halaman belakang yang masih menyala, Pat berteriak mengucapkan kata terima kasih, lalu melemparkan perempuan itu ke dalam kobaran api begitu saja. Aku menyaksikan itu semua. Sekarang dari dalam nyala api, perempuan itu berteriak menjerit kepanasan. Ketakutanku menguat. Ia mengendalikan tubuhku hingga tangisanku menjadi nyaring lagi. Pat menyadari keberadaanku, lalu berbalik badan. Ia berlari, menghampiriku lalu memeluk tubuhku berusaha menenangkan.

“Tenanglah, kekasihku. Tak perlu takut. Aku ada di sini.”

Aku memberontak, berusaha lepas dari dekapan Pat. Aku menendang selangkangannya dengan sekuat tenaga hingga ia terjatuh dan meringis kesakitan. Kedua tangannya memegangi kemaluan. Aku mengambil batu bata yang tersusun di halaman, lalu kuhantamkan ke kepala Pat hingga ia diam dan tidak bergerak lagi. Kuseret tubuhnya mendekati bak sampah. Dengan sisa tenaga yang kupunya, kuangkat tubuhnya dan kulemparkan ia ke dalam kobaran api yang membesar. Aku melihat ke semesta begitu banyak bintang yang menghiasi malam. Percikan api membumbung bersamaan dengan asap dan mengeluarkan bau yang begitu enak. Baunya seperti sampah yang dibakar ayah.

Ternyata benar. Ini memang indah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.